SNI 2847-2019 Persyaratan-Beton-Struktural-untuk-Bangunan-Gedung-dan-Penjelasan

SNI 2847:2019 adalah standar yang mengatur persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung. Standar ini mengacu pada ACI 318-14 dengan beberapa penyesuaian untuk kondisi di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa perancangan, pelaksanaan, dan pengawasan bangunan beton bertulang dilakukan sesuai dengan prinsip keselamatan, daya tahan, dan kinerja struktural yang optimal.

Ruang Lingkup Standar

Standar ini mencakup berbagai aspek perancangan beton struktural, mulai dari material, desain, analisis, konstruksi, hingga pengendalian mutu. Standar ini berlaku untuk:

  • Bangunan gedung baru
  • Bangunan yang diperkuat atau direnovasi
  • Struktur dengan kombinasi beton bertulang dan beton prategang
  • Struktur tahan gempa

Material yang Digunakan

SNI 2847:2019 mengatur karakteristik material yang digunakan dalam konstruksi beton bertulang, termasuk: 

1. Beton

  • Kuat tekan beton (f’c) harus sesuai dengan perencanaan dan diuji melalui silinder uji.
  • Mutu beton umumnya ≥ 17 MPa, tetapi untuk bangunan bertingkat tinggi atau tahan gempa bisa mencapai 40–60 MPa.
  • Penggunaan aditif diperbolehkan untuk meningkatkan daya tahan, seperti superplasticizer, fly ash, dan silica fume.

2. Baja Tulangan

  • Baja polos (plain steel) biasanya digunakan untuk tulangan spiral.
  • Baja ulir (deformed bar) lebih umum digunakan untuk elemen struktural utama.
  • Mutu baja tulangan yang umum digunakan BJTP 280 (fy = 280 MPa), BJTS 420 (fy = 420 MPa), dan BJTS 500 (fy = 500 MPa)

3. Beton Prategang

  • Baja prategang memiliki mutu lebih tinggi, biasanya fy ≥ 1860 MPa.
  • Digunakan untuk elemen seperti balok panjang, jembatan, dan lantai pratekan.

Prinsip Perancangan Struktur

Standar ini mengacu pada metode Desain Berbasis Kinerja (Performance-Based Design), dengan pendekatan utama sebagai berikut:

 1. Metode Perancangan

  • Desain batasan kekuatan (Strength Design / Ultimate Limit State - ULS)
  • Struktur harus mampu menahan beban maksimum tanpa mengalami kegagalan.
  • Batasan Layanan (Serviceability Limit State - SLS)
  • Struktur harus tetap nyaman digunakan, dengan lendutan dan retak yang terkendali.

2. Faktor Keamanan

Setiap elemen harus memiliki faktor reduksi kekuatan (φ) untuk memastikan margin keamanan terhadap beban yang terjadi.

  • φ = 0.90 untuk lentur
  • φ = 0.75 untuk geser
  • φ = 0.65 untuk tekan (kolom)

Beban dan Kombinasi Beban

Struktur harus mampu menahan berbagai kombinasi beban berdasarkan SNI 1727:2020, yaitu:

  • Beban Mati (D): Berat sendiri struktur, dinding, peralatan permanen.
  • Beban Hidup (L): Beban dari penghuni, perabot, kendaraan, dll.
  • Beban Gempa (E): Gaya seismik berdasarkan wilayah Indonesia.
  • Beban Angin (W): Tekanan angin pada bangunan tinggi.
  • Kombinasi beban untuk desain 1.2D + 1.6L, 1.2D + 1.0E + 0.5L, dan 0.9D + 1.0E

Ketentuan Elemen Struktural

1. Balok

  • Penulangan longitudinal minimum untuk mencegah kegagalan getas.
  • Sengkang (stirrup) untuk geser, harus dipasang pada daerah tumpuan dan sepanjang balok.
  • Kontrol lendutan, terutama untuk bentang panjang agar tidak mengalami deformasi berlebihan.

2. Kolom

  • Kolom harus memiliki tulangan longitudinal minimal 1% dan maksimal 8% dari luas penampang.
  • Rasio tinggi terhadap lebar (slenderness ratio) harus dikontrol untuk mencegah tekuk.
  • Kolom dalam zona seismik harus memiliki detail tulangan khusus.

3. Pelat

  • Pelat satu arah jika panjang:lebar > 2
  • Pelat dua arah jika panjang:lebar ≤ 2
  • Penulangan harus dipasang di dua arah untuk distribusi gaya yang merata.

4. Dinding Struktural (Shear Wall)

  • Digunakan sebagai sistem penahan gaya lateral (misalnya gempa).
  • Harus memiliki tulangan horizontal dan vertikal untuk menghindari retak geser.

 Ketentuan Konstruksi dan Pelaksanaan

1. Proses Pengecoran Beton

  • Slump beton harus sesuai dengan metode pengecoran (±100 mm untuk balok dan kolom).
  • Vibrator beton harus digunakan untuk menghindari rongga udara.
  • Curing harus dilakukan setidaknya 7 hari untuk mencegah retak dini.

2. Penyambungan Tulangan

  • Sambungan tumpang (lap splice) harus diperhitungkan sesuai dengan diameter tulangan.
  • Pengelasan tulangan hanya boleh dilakukan pada baja dengan spesifikasi khusus.

Ketahanan Gempa

SNI 2847:2019 sangat menekankan desain tahan gempa dengan konsep kapasitas desain (capacity design), yaitu:

  • Kolom lebih kuat dari balok (strong column-weak beam concept).
  • Tulang geser (stirrup) yang rapat pada zona plastis untuk menghindari keruntuhan getas.
  • Dinding geser (shear wall) yang cukup kuat untuk menahan gaya lateral.

Pemeriksaan dan Pengendalian Mutu

  • Uji kuat tekan silinder beton dilakukan pada umur 7 dan 28 hari.
  • Inspeksi lapangan sebelum pengecoran, termasuk pemeriksaan tulangan.
  • Pemeriksaan lendutan dan retak setelah bangunan digunakan untuk memastikan kinerja jangka panjang.
Rangkuman diatas hanyalah rangkuman singkat dari SNI 2847-2019, jika anda ingin membacanya secara lengkap, anda bisa mendownloadnya disini.

Post a Comment for "SNI 2847-2019 Persyaratan-Beton-Struktural-untuk-Bangunan-Gedung-dan-Penjelasan"